Loading...

TEOLOGI LINGKUNGAN


Oleh: Fikria Najitama



Teologi Lingkungan
Oleh: Fikria Najitama

            Teologi lingkungan merupakan konsep baru dalam diskursus kajian teologi. Kajian ini merupakan respon penyikapan secara teologis terkait dengan persoalan lingkungan. Dalam diskursus akademisi teologi muslim klasik, kajian mengenai teologi lingkungan belum mendapat porsi. Akademisi muslim klasik masih berkutat dalam diskursus teologi yang memfokuskan pada kajian mengenai ‘Tuhan’. Kajian pada fase akademisi teologi pertengahan sudah mulai berkembang, namun belum menyentuh persoalan lingkungan. Hal ini dikarenakan persolan lingkungan pada fase itu belumlah menimbulkan persoalan. Namun dimasa kontemporer, persoalan lingkungan sudah begitu memprihatinkan, sehingga membutuhkan respon yang serius dari berbagai kalangan, termasuk didalamnya adalah para akdemisi teologi.
            Dalam diskursus teologi lingkungan, Islam bukanlah satu-satu agama yang mencoba merumuskan konsep teologinya terkait dengan lingkungan. Namun kajian teologi lingkungan juga dikembangkan oleh para agama-agama lainnya. Dengan kata lain, persoalan lingkungan hidup merupakan problem dan memunculkan keprihatinan bagi semua agama. Berlandaskan hal tersebut, para akademisi berusaha menelaah khazanah literaturnya untuk merumuskan konsep teologinya untuk merespon krisis-krisis lingkungan yang semakin parah.
            Namun selain adanya realitas lingkungan kontemporer yang semakin rusak, munculnya kajian teologi lingkungan juga didorong oleh adanya kritik-kritik yang menjustifikasi bahwa agama-agama –khususnya monoteisme- harus bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan. Arnold Toynbee misalnya, menyatakan bahwa krisis lingkungan hidup disebabkan oleh agama-agama monoteisme yang menghilangkan rasa hormat terhadap alam ilahi, sehingga tidak ada lagi yang menahan ketamakan manusia (Martin, 2001: xv). Kenyataan ini tentunya memicu para teolog untuk merespon kritik tersebut dengan memberikan pemahaman yang proposional mengenai konsep teologi agama-agama.

Antroposentrisme Paradigma Manusia
            Dalam masyarakat, teologi yang berkembang dan dianut lebih condong kepada antropsentrisme. Paradigma ini ditandai dengan muncul dan melonjaknya kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk istimewa dan berkuasa atas alam. Dengan kata lain, paradigma ini mengacu pada keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk elite, exlusive, dan segenap oganisme di luar manusia diciptakan dan disediakan untuk kepentingan dan kebutuhan manusia. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa paradigma antroposentrisme merupakan ekologi arogan yang mana memposisikan lingkungan sebagai nilai untung bagi manusia. Hal inilah yang kemudian memberi jalan kepada manusia terjerusmus dalam keangkuhan, kesombongan, dan tamak terhadap lingkungan. Lingkungan dieksploitasi seenaknya demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan kelestariannya. Dapat ditebak, dengan perilaku ini otomatis lingkungan menjad rusak, tercemar, dan memprihatinkan.
            Perkembangan ilmu dan teknologi yang memiliki paradigma antroposentrisme juga semakin membuat manusia semakin mengukuhkan dominasinya atas alam. Hal ini dikarena ilmu dan teknologi yang diciptakan merupakan alat untuk mengekploitasi lingkungan dan sumberdaya alam demi memenuhi ambisi kebutuhan manusia. Lingkungan direkayasa sedemikian rupa tanpa memperhatikan aspek negatif yang muncul. Implikasinya tentu saja membuat lingkungan menjadi tidak seimbangan serta merusak ekosistem yang ada. Sebagai misal adalah pemakaian bahan kimia yang satu segi meningkatkan produktifitas, namun dalam segi yang lain menimbulkan pencemaran dan merusak ekosistem. Namun bagi masyarakat berparadigma antroposentisme, hal tersebut tetap dilakukan, karena titik tolak nilai yang dikejar adalah keuntungan bagi manusia.

Teologi Lingkungan Islam
            Dalam diskursus keislaman, istilah teologi biasanya diistilahkan dengan ilmu tauhid, ilmu kalam, dan ilmi ushuluddin. Istilah ilmu tauhid dikarena obyek kajian ilmu membahas mengenai keyakinan bahwa Allah itu Maha Esa. Hal ini dikarenakan keesaan Allah merupakan pokok sistem keyakinan Islam sebagai agama monoteisme. Adapun istilah ilmu kalam dikarenakan kajian ilmu ini membahas mengenai firman Allah yang termanifertasikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal ini tercatat dalam sejarah Islam bahwa persoalan al-Qur’an sebagai kalamullah -apakah qadim atau hadits?- pernah menimbulkan polemik, dan berdarah-darah dikalangan umat Islam. Sedangkan istilah ushuluddin muncul dikarenakan ilmu ini membahas mengenai dasar-dasar ajaran agama Islam.
            Secara konseptual, bila dihubungkan dengan kajian keislaman, maka teologi lingkungan Islam merupakan teologi yang obyek material kajiannya adalah bidang lingkungan dan perumusannya didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. Dengan bahasa yang lain, teologi lingkungan juga bermakna ilmu yang membahas tentang ajaran-ajaran Islam mengenai lingkungan.
            Teologi lingkungan Islam secara konseptual berbeda dengan teologi antroposentrisme radikal yang menempatkan manusia dalam posisi paling berkuasa atas lingkungan (Mujiono, 2006: 291). Dalam hal ini, teologi lingkungan Islam menempatkan manusia dalam posisi yang proposional dan seimbang dengan alam. Konstruksi ini otomatis menempatkan manusia sebagai bagaian integral dari lingkungan.
            Landasan teologi lingkungan Islam didasarkan pada rumusan al-Qur’an antara lain adalah Q.S. Ar-Rahman: 10 dan Q.S. Al-Baqarah: 29. Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa lingkungan diciptakan dan untuk didayagunakan oleh manusia. Dari ayat tersebut dapat ditarik makna secara teologis bahwa Allah telah menciptakan sumber daya alam dan lingkungan untuk didayagunakan oleh manusia. Keyword dari ayat tersebut adalah pada kata lam. Secara semantik, lam tersebut memiliki arti hak memanfaatkan (lam lit-tanfi’) bukan lam yang bermakna memiliki (lam lit-tamlik) (Mujiono, 2006: 291). Dengan demikian, pada dasarnya manusia diberi hak dan kewenangan untuk memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan. Namun hal tersebut diberi aturan dengan batas-batas keseimbangan dan kewajaran, karena di ayat-ayat yang lain manusia juga diingatkan supaya tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan. Dari landasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teologi Islam mendasarkan pada paradigma keseimbangan, bukan pada paradigma antroposentrisme radikal. Hal ini juga didasarkan pada keyakinan dalam teologi Islam bahwa pemilik hakiki alam semesta adalah Allah. Wallohu a’lam bi ash-showwab


Referensi

Martin Harun, “Taklukkan Bumi dan Berkuasalah…” dalam Mujiono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2001.
Mujiyono Abdillah, “Rekonstruksi Teologi Lingkungan dalam Pembangunan Masyarakat Madani”, dalam Innovatio, vol. 5, No. 10 Edisi Juli-Desember 2006.


0 komentar:

Poskan Komentar

 
TOP